Selasa, 28 April 2020

Mengenal Pengertian, Manfaat, Tujuan serta Kelemahan Agroforestri

April 28, 2020 0 Comments
Agroforestri atau yang sering disebut Wanatani merupakan solusi untuk masalah konversi lahan dari hutan menjadi lahan pertanian. Konversi lahan yang mengakibatkan masalah lingkungan seperti banjir, kekeringan, erosi tanah, kelangkaan / kepunahan keanekaragaman hayati, penurunan kesuburan tanah hingga perubahan lingkungan dapat dikurangi dengan sistem agroforestri.

Model-model wanatani bervariasi mulai dari wanatani sederhana berupa kombinasi penanaman sejenis pohon dengan satu-dua jenis komoditas pertanian, hingga ke wanatani kompleks yang memadukan pengelolaan banyak spesies pohon dengan aneka jenis tanaman pertanian, dan bahkan juga dengan ternak atau perikanan.

Dalam bentuk yang dikenal umum, wanatani ini mencakup rupa-rupa kebun campuran, tegalan berpohon, ladang, lahan bera (belukar), kebun pekarangan, hingga hutan-hutan tanaman rakyat yang lebih kaya jenis seperti yang dikenal dalam rupa talun di Jawa Barat, repong di Lampung Barat, parak di Sumatra Barat, tembawang (tiwmawakng) di Kalimantan Barat, simpung (simpukng) dan lembo di Kalimantan Timur, dan lain-lain bentuk di berbagai daerah di Indonesia.

Pengertian Agroforestri

Agroforestri adalah sistem budidaya tanaman kehutanan yang dilakukan bersama dengan tanaman pertanian / peternakan. Tanaman kehutanan yang dimaksud adalah tanaman pepohonan, sedangkan tanaman pertanian berkaitan dengan tanaman semusim.

Pengertian agroforestri dapat dijelaskan secara lebih luas, yaitu penggabungan sistem budidaya kehutanan, pertanian, perikanan, dan peternakan.

Istilah agroforestri berasal dari kata serapan bahasa Inggris, yakni “agroforestry”. Agro yang berarti pertanian, sedangkan forestry berarti kehutanan.

Di Indonesia, sistem ini seringkali disebut dengan istilah “wanatani” yang merupakan gabungan dari kata “wana” dan “tani” yang berarti hutan tani. Pada prakteknya, agroforestri ialah suatu sistem pengelolaan lahan yang berguna untuk mengatasi masalah ketersediaan lahan dan untuk meningkatkan produktivitas lahan.

Manfaat Agroforestri

Pengembangan wanatani dilakukan agar memberikan manfaat kepada masyarakat. Adanya agroforestri diharapkan dapat memecahkan berbagai masalah dalam hal pengembangan pedesaan.

Berikut ini beberapa manfaat dari agroforestry:
- Membantu penggunaan lahan secara optimal sehingga dapat memperbaiki kebutuhan hidup masyarakat
- Meningkatkan daya dukung ekologi manusia terutama di daerah pedesaan. Agroforestri juga bisa dimanfaatkan untuk menjamin dan memperbaiki kebutuhan pangan
- Meningkatkan persediaan pangan pada tiap musim, sehingga petani dapat memperoleh tambahan penghasilan untuk kebutuhan sehari-hari. Namun untuk memperoleh manfaat ini, maka petani harus memperhatikan kualitas nutrisi, pemasaran serta setiap proses yang terjadi pada agroforestri
- Memperbaiki penyediaan energi lokal terutama produksi kayu bakar
- Meningkatkan dan memperbaiki produksi bahan mentah hasil kehutanan maupun pertanian.
- Umumnya peningkatan produksi bahan mentah ini dilakukan secara kualitatif dan diversifikasi.
- Memanfaatkan berbagai jenis pohon dan perdu
- Memperbaiki kualitas hidup terutama di daerah pedesaan, terutama di daerah miskin. Agroforestri dapat meningkatkan pendapatan serta tersedianya lapangan pekerjaan bagi masyarakat
- Meningkatkan kinerja usia produktif (usia muda) di pedesaan sehingga kualitas hidup dapat meningkat
- Memelihara dan memperbaiki kemampuan dan kelestarian lingkungan setempat. Hal ini dapat dilakukan dengan mencegah terjadinya erosi tanah dan degradasi lingkungan
- Berkontribusi terhadap program Tantangan Tanpa Kelaparan PBB untuk menyudahi kelaparan global, mengurangi gizi buruk dan membangun sistem pangan berkelanjutan.

Tujuan Agroforestri

Agroforestri memiliki tujuan positif, terutama bagi lingkungan hidup. Salah satunya adalah sebagai upaya perlindungan terhadap keanekaragaman hayati. Sistem wanatani dapat menghasilkan keanekaragaman yang tinggi, baik menyangkut produk maupun jasa.

Selain itu, agroforestri juga bertujuan untuk memperbaiki kondisi tanah serta mengelola sumber air agar tetap lestari dan menjadi lebih baik. Program ini bermanfaat pula sebagai pohon peneduh dan pohon pelindung, serta pagar hidup.

Seluruh tujuan yang menjadi target agroforestri akan tercapai jika pengelola atau petani mampu melakukan teknik pengembangan dengan baik.

Ada beberapa hal yang harus dilakukan agar sistem wanatani berjalan dengan baik. Misalnya, mengadakan interaksi positif antara berbagai komponen penyusun, meliputi pohon, produksi tanaman pertanian, dan hewan atau ternak.

Interaksi positif juga dapat dilakukan antara komponen-komponen penyusun dengan lingkungannya. Interaksi tersebut sebaiknya dilakukan secara optimal agar pengembangan agroforestri dapat berjalan dengan baik.

Agroforestri merupakan suatu teknik yang baik dan menjadi pilihan petani untuk meningkatkan kualitas dari produktivitas lahan di tengah keterbatasan lahan. Selain itu, upaya ini juga berdampak baik untuk lingkungan. Sebab, metode ini dapat melindungi keanekaragaman hayati, serta tidak mengakibatkan pencemaran lingkungan.

Ruang Lingkup Agroforestri
Seperti yang telah disampaikan diatas, wanatani terdiri dari 3 komponen, antara lain kehutahan, pertanian, dan peternakan. Gabungan dari 3 komponen tersebut dapat menjadi:

- Agrisilvikultur (kehutanan dan pertanian)
- Agropastura (pertanian dan peternakan)
- Silvopastura (kehutanan dan peternakan)
- Agrosilvopastura (pertanian, kehutanan, dan peternakan)

Terciptanya 4 sistem kombinasi tersebut, tidak seluruhnya merupakan bagian dari agroforestri atau wanatani, sebab agropastura tidak melibatkan komponen kehutanan.

Agroforestri atau wanatani merupakan salah satu sitem alternatif yang perlu dikembangkan untuk menikmati jasa lingkungan hutan dan pangan dari sumber komponen pertanian.


Keunggulan Agroforestri

Ada beberapa keunggulan dari pengembangan agroforestri, antara lain rendahnya modal dan biaya tenaga kerja yang akan digunakan. Sebab, produktivitas lahan melalui siklus unsur hara dan perlindungan tanah mampu dilakukan dengan modal yang murah dan sedikit tenaga kerja.

Selain itu, agroforestri juga dapat meningkatkan nilai output pada suatu area lahan tertentu. Hal ini terjadi karena adanya penanaman campuran antara pohon dan spesies lainnya.

Agroforestri juga dapat mendiversifikasi kisaran output dengan tujuan untuk meningkatkan swasembada. Diversifikasi dapat mengurangi hilangnya pendapatan yang mungkin terjadi terutama ketika cuaca buruk atau karena pengaruh faktor biologi dan faktor pasar.

Adanya diversifikasi bertujuan mendistribusikan kebutuhan input tenaga kerja secara lebih merata. Tentu saja hal ini tepat dilakukan di daerah pertanian tropis seperti di Indonesia.

Diversifikasi dapat pula menyediakan produktivitas untuk lahan, tenaga kerja ataupun untuk modal yang belum sempat dimanfaatkan. Melihat kelebihan tersebut, maka bukan tidak mungkin akan semakin banyak pengelolaan dan pengembangan lahan untuk agroforestri sehingga mencapai hasil yang maksimal.

Agroforestri pada akhirnya akan berdampak positif pada kehidupan sosial masyarakat yang memperoleh penghasilan dari penjualan hasil lahan.

Kelemahan Agroforestri

Selain memiliki kelebihan, tentunya agroforestri juga memiliki beberapa kelemahan, misalnya dapat mengurangi hasil tanaman pokok karena pohon-pohon yang ada akan bersaing dalam perolehan zat hara, cahaya matahari dan air.

Selain itu, sistem ini juga menyebabkan terjadinya ketidaksesuaian pohon dengan kegiatan pertanian, contohnya aktivitas pembakaran dan pemakaian lahan bersama yang akan membuat perlindungan terhadap pohon menjadi berkurang.

Pohon-pohon di hutan juga akan merintangi tanaman pertanian, hal ini dapat berujung pada meningkatnya biaya tenaga kerja saat proses pengolahan. Di samping itu, keberadaan pohon yang merintangi tanaman juga akan menghambat kemajuan sistem pertanian. Maka dalam pelaksanaan agroforestri harus dilakukan dengan langkah dan perhitungan yang tepat agar tidak memberikan kerugian.

Agroforestri sebaiknya dilakukan dengan lebih teliti agar penerapannya dapat berjalan secara proporsional agar kelebihannya dapat diperoleh dan kelemahan dapat diminimalkan. Penerapan sistem agroforestri yang benar dan tepat tentu akan memberikan hasil optimal.

Sumbetr
https://id.wikipedia.org/wiki/Wanatani
http://www.worldagroforestry.org/publication/fungsi-dan-peran-agroforestri
https://rimbakita.com/agroforestri/

Rabu, 04 Maret 2020

Cara Mudah Menyemai Sirsak

Maret 04, 2020 0 Comments

DAFTAR ISI
  1. Mengenal Sirsak
  2. Pilihan varietas sirsak untuk ditanam
  3. Tempat yang Cocok Untuk Menanam Sirsak
  4. Bibit Untuk Menanam Sirsak
  5. Bibit Sirsak Berasal dari Penyemaian Biji
  6. Bibit Sirsak Berasal dari Sambung Pucuk
  7. Menanam dan Merawat Sirsak
  8. Sumber

Mengenal Sirsak

Sirsak, nangka belanda, atau durian belanda[2] (Annona muricata L.) adalah tumbuhan berguna yang berasal dari Karibia, Amerika Tengah dan Amerika Selatan. Di berbagai daerah Indonesia dikenal sebagai nangka sebrang, nangka landa (Jawa), nangka walanda, sirsak (Sunda), nangka buris, nangkelan (Madura), srikaya jawa (Bali), boh lôna (Aceh), durio ulondro (Nias), durian betawi (Minangkabau), serta jambu landa (di Lampung, "Nangko Belando" (Palembang). Penyebutan "belanda" dan variasinya menunjukkan bahwa sirsak (dari bahasa Belanda: zuurzak, berarti "kantung asam") didatangkan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda ke Nusantara, yaitu pada abad ke-19, meskipun bukan berasal dari Eropa. Tumbuhan ini dapat tumbuh di sembarang tempat, paling baik ditanam di daerah yang cukup berair. Nama sirsak sendiri berasal dari bahasa Belanda. Zuurzak. yang berarti "kantung yang asam".

Sirsak memiliki nilai ekonomis pada buah. Sirsak masih menjadi komuditas sangat digemari. Selain rasanya yang unik, sirsak juga banyak mengandung nutrisi. Bagian daging buah sirsak yang dapat dikonsumsi terdiri atas 67%, kulit 20%, biji 8,5%, dan poros tengah buah/inti buah4,5% (Widyastuti,Yustina Erna, 1993). Setelah air, kandungan zat gizi yang terbanyak dalam buah sirsak adalah karbohidrat. Salah satu jenis karbohidrat pada buah sirsak adalah gula pereduksi (glukosa dan fruktosa) dengan kadar 81,9 hingga 93,6 % dari kandungan gula total. Kandungan gula tersebut sebesar 68% dari seluruh bagian padat daging buah sirsak. Daging buah sirsak yang berwarna putih dan lunak memiliki banyak serat dan vitamin.


Buah sirsak mengandung lemak sangat sedikit (0,3 g/100 g), sehingga sangat baik untuk kesehatan. Rasa asam pada sirsak berasal dari asam organik non volatil, terutama asam malat, asam sitrat, dan asam isositrat. Vitamin yang cukup dominan dalam buah sirsak adalah vitamin C. Vitamin C daging sirsak manis (sirsak ratu)lebih kurang 20 mg per 100 gram daging buah, sedangkan pada sirsak asam sebesar 81,7mg/100g bahan (Yudha, 2009). Kebutuhan vitamin C per orang per hari lebih kurang 60 mg, bisa dipenuhi dengan mengonsumsi 300 gram daging buah sirsak. Kandungan vitamin C yang cukup tinggi pada sirsak merupakan antioksidan yang sangat baik untuk meningkatkan daya tahan tubuh dan memperlambat proses penuaan (tetap awet muda). Selain kandungan-kandungan di atas, Masih banyak kandungan lain dari Sirsak seperti Mineral, Serat, dan sebagainya.


Secara Ekonomis, Sirsak juga memiliki banyak manfaat mulai dari akar hingga Buah. Akar dan kulit sirsak bias dimanfaatkan untuk pengobatan tradisonal masalah disentri dan cacingan. Kulit dan Akar sissak diketahui mengandung Tanin sehingga sangat cocok untuk mengatasi keluhan kesehatan tersebut. Manfaat lain juga terdapat di daun dan beberapa bagian lain pada sirsak. Oleh karena itu, Sirsak sampai saat ini memiiki nilai ekonomis yang lumayan tinggi.

Makanya, karena prospektif dan peluang pasar cukup bagus, yuk kita cari info dulu seputar budidaya sirsak agar kita dapat segera menanam sirsak di rumah atau di kebun.

Pilihan varietas sirsak untuk ditanam

Sebelum menanam sirsak, apakah sudah memilih varietas sirsak? Atau sudahkah mengenal jenis dari buah “durian belanda” ini? Setidaknya ada 5 varietas sirsak yang sudah umum dikenal, yaitu :
- Sirsak Lokal
- Sirsak Ratu
- Sarikaya
- Buah Nona (Annona montana)
- Biriba (Annona mucosa)

Buah yang berasal dari Amerika latin ini memiliki aroma yang harum dan rasa yang berbeda-beda. Ada sirsak yang rasanya asam manis dan ada juga sirsak yang rasanya lumayan manis dan legit. Sirsak yang rasa manis dan enak adalah sirsak varietas ratu.

Baik, agar Sobat tidak hilang fokus, kita langsung saja ke topik bagaimana cara menanam sirsak yang benar, mudah, dan cepat berbuah.

Tempat yang Cocok Untuk Menanam Sirsak

Supaya menanam sirsak jadi benar, ya mesti tau dimana tempat yang cocok untuk menanamnya alias syarat tumbuh sirsak. Kalau orang akademis bilang, kondisi ekologis sangat menentukan pertumbuhan tanaman sirsak.

Sirsak suka tumbuh dan berkembang dengan baik jika ditanam pada ketinggian tempat 0-700 meter di atas permukaan laut (mdpl). Bahkan, bisa juga tumbuh jika ditanam pada ketinggian 1000 mdpl. Tapi, percuma saja menanam sirsak pada ketinggian seperti itu karena pembungaannya sulit sekali.

Sirsak tidak menghendaki tumbuh pada suhu udara dingin-dingin. Sirsak lebih menyukai ditanam pada daerah yang berhawa panas seperti pada temperatur udara 250 – 300C. Sinar matahari yang cukup sangat menunjang pertumbuhannya.

Bagaimana dengan tanah untuk menanamnya? Untuk jenis tanah tidak menjadi soal bagi tanaman sirsak. Yang penting tanah tempat tumbuhnya ada bahan organik, relatif subur, dan pH-nya berkisar dari 4,5-8.

Kalau ketersediaan air, ya sirsak sudah pasti butuh air tanah yang cukup. Tetapi, pohon sirsak “tidak bisa berenang apalagi bernafas”  kalau air menggenanginya. Artinya, jika menanam pohon sirsak, harap dipastikan tersedia drainase agar tidak menggenangi lahan tanaman sirsak ketika hujan lebat.

Bibit Untuk Menanam Sirsak


Seperti sudah penulis katakan sekilas di atas tadi, bibit untuk menanam sirsak bisa berasal dari biji (benih) dan bisa juga dari bagian pohon yang diperbanyak secara vegetatif seperti sambung pucuk dan okulasi.

Namun, sebelum menuju bagaimana cara pembibitan sirsak baik secara generatif maupun vegetatif. Kita lihat dulu kelebihan dan kekurangan perbanyakan bibit sirsak melalui biji (generatif) dengan sambung pucuk (vegetatif).

Kelebihan perbanyakan bibit sirsak melalui biji
- Bisa diperoleh bibit dalam jumlah yang banyak
- Cepat dan relatif murah

Kekurangan perbanyakan bibit sirsak melalui biji
- Berbuah dalam waktu yang lama (+/- 5 tahun)
- Sifat-sifat induknya seperti ukuran, rasa, dan lainnya tidak diwariskan semuanya

Kelebihan perbanyakan bibit sirsak melalui sambung pucuk
- Sifat-sifat induk pohon sirsak diwariskan ke bibit yang baru
- Pohon sirsak akan cepat berbuah (+/- 2 tahun)


Kekurangan perbanyakan bibit sirsak melalui sambung pucuk
- Relatif mahal untuk pengadaan bibit sirsak
- Butuh entres dari indukan sirsak unggul dalam jumlah yang banyak

Nah, melihat kelebihan dan kekurangan itu, tampaknya perbanyakan bibit sirsak melalui vegetatif lebih menguntungkan. Sebab, waktu berbuah relatif cepat dan kualitas buahnya tak perlu diragukan karena persis sama seperti kualitas buah dari indukannya.

Bibit Sirsak Berasal dari Penyemaian Biji

Jika ingin menanam sirsak dengan menggunakan bibit yang berasal dari biji, maka biji harus disemai terlebih dahulu.  Namun, sebelum melangkah ke penyemaian, perhatikan dulu syarat-syarat biji yang baik. Misalnya, biji untuk bibit harus berasal dari varietas sirsak unggul, sehat, dan sudah berumur lebih dari 5 tahun. Sebaiknya, biji diambil dari buah sirsak yang sudah masak di batangnya.

Baik, Sobat mungkin ingin tau bagaimana memperbanyak bibit sirsak dari biji? Lihat cara pembibitan sirsak dengan cara penyemaian biji seperti berikut ini.

a. Cuci biji sirsak sampai bersih
b. Pilih biji yang berukuran sedang dan seragam
c. Jemur atau angin-anginkan terlebih dahulu agar kering selama 1-2 hari
d. Buat media semai berupa bedengan (ukuran lebar 1-2 meter dan tinggi 30 cm, panjang bedengan disesuaikan)
e. Tambahkan pasir dan pupuk kandang dengan perbandingan 1:1
f. Siram media semai sampai lembab
g. Tanam biji sirsak pada media semai dengan kedalaman +/- 2cm, tutup dengan tanah gembur di atasnya, atur jaraknya +/- 5 cm
h. Siram secara rutin untuk menjaga kelembaban media semai
i. Jika bibit sirsak sudah tumbuh 2 helai daun, segera pindahkan ke dalam polybag

Selain menyemai di bedengan, biji sirsak dapat juga disemai langsung dalam polybag yang berukuran 5 x 10 cm atau 20 x 30 cm. Isi media semai ke dalam polybag terdiri dari campuran tanah dan pupuk kandang.

Langkah-langkah semai biji dalam polybag secara umum sama dengan langkah semai biji sirsak pada bedengan. Hanya saja berbeda pada campuran media semai (lihat langkah 4 dan 5 di atas).

Cara Memindahkan Bibit dari Bedengan ke Polybag
a. Isi polybag dengan media tanam berupa campuran pupuk kandang dan tanah, perbandingannya 1:1
b. Cungkil secara pelan-pelan bibit sirsak agar tanah melekat pada akarnya
c. Tanam bibit sirsak dalam polybag
d. Jika bibit sirsak sudah tumbuh dengan tinggi minimal 60 cm, atau sudah berumur 10 - 12 bulan, bibit siap dipindahkan ke lahan tanam

Bibit Sirsak Berasal dari Sambung Pucuk

Jika mau sirsak cepat berbuah dan sesuai dengan kualitas yang diharapkan, maka tanamlah sirsak dengan menggunakan bibit hasil perbanyakan vegetatif. Bibit sirsak hasil sambung pucuk cukup banyak tersedia di nursery atau pada penyedia bibit. Sobat tinggal beli saja. Selain membeli, bibit sirsak sambung pucuk (vegetatif) juga dapat diperbanyak sendiri asalkan punya keahlian, ada batang induk untuk mengambil entresnya, dan ada batang bawah.

Penyiapan lahan tanam sirsak

Lahan untuk menanam sirsak harus sudah siap ketika bibit ingin dipindahkan ke lahan tanam. Lahan harus sudah dibersihkan dari semak belukar agar memudahkan dalam membuat lubang tanam dan drainase.

Lubang tanam sirsak dibuat dengan ukuran 50 cm x 50 cm x 50 cm. Sedangkan jarak tanam diatur dengan jarak 6 m antar barisan dan 5 m dalam barisan. Berikan pupuk dasar sebelum menanam bibit sirsak. Dosis dan cara aplikasi pupuk dasar dapat dibaca pada artikel Pupuk dan Cara Pemupukan Pohon Sirsak agar Cepat Berbuah

Menanam dan Merawat Sirsak

Ketika bibit sirsak sudah besar atau sudah berumur 10-12 bulan (bibit asal biji) atau sudah berumur 4 bulan setelah sambung pucuk (bibit asal vegetatif), maka bibit sirsak sudah dapat ditanam pada lahan yang sudah disiapkan.

Cara menanam bibit sirsak mudah saja seperti berikut ini.
a. Siram lubang tanam sampai lembab jika menanam musim kemarau (sebaiknya menanam pada awal musim hujan)
b. Siramkan juga bibit sirsak yang masih berada dalam polybag
c. Lepaskan polybag secara perlahan-lahan agar tidak merusak media tumbuhnya
d. Tanam bibit sirsak tepat di tengah-tengah lubang tanam
e. Tutup/timbun lubang tanam dengan tanah sampai rata
f. Pasang ajir atau penyangga agar bibit sirsak tidak mudah goyah atau roboh

Perawatan tanaman sirsak

Agar pohon sirsak tumbuh subur dan lekas berkembang, maka perlu perawatan. Perawatan tanaman sirsak sudah harus dimulai sejak awal penanaman seperti penyulaman dan penyiraman.

Penyulaman dimaksudkan agar pertumbuhan tanaman sirsak seragam dan tidak ada bibit sirsak yang mati atau tidak ada lubang tanam yang kosong.

Demikian juga dengan penyiraman, bibit pohon sirsak yang baru saja ditanam harus mendapat cukup air. Karenanya, jika kemarau atau tidak ada hujan, tanaman sirsak perlu disiram.

Namun, penyiraman tidak mesti setiap hari, 2 hari sekali disiram sudah cukup untuk menjaga kelembaban media tumbuh dan pertumbuhan sirsak.

Perawatan lainnya yang tidak boleh diabaikan adalah pemupukan. Pohon sirsak yang sudah ditanam perlu dilakukan pemupukan susulan. Jenis pupuk, dosis, waktu, dan cara pemupukan susulan pohon sirsak dapat dibaca pada artikel Pupuk dan Cara Pemupukan Pohon Sirsak.

Seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan tanaman sirsak, maka perlu juga dilakukan pemangkasan cabang-cabang yang tidak produktif dan cabang yang saling tumpang-tindih sehingga tidak menghalangi sinar matahari.

Sumber

https://id.wikipedia.org/wiki/Sirsak
https://tirto.id/manfaat-sirsak-dari-buah-hingga-akar-untuk-kesehatan-el2V
https://lifestyle.kompas.com/read/2019/08/13/150312020/beragam-manfaat-buah-sirsak-untuk-kesehatan?page=all
https://www.liputan6.com/properti/read/2654621/langkah-mudah-menanam-pohon-sirsak-di-rumah
https://pupuklahan.blogspot.com/2019/07/cara-menanam-sirsak.html

Senin, 10 Februari 2020

Yuk, Kenali Hama dan Penyakit Pohon Jati

Februari 10, 2020 0 Comments
Mengenal Jati
Jati adalah sejenis pohon penghasil kayu bermutu tinggi. Pohon besar, berbatang lurus, dapat tumbuh mencapai tinggi 30-40 m. Berdaun besar, yang luruh di musim kemarau. Jati dikenal dunia dengan nama teak (bahasa Inggris). Nama ini berasal dari kata thekku dalam bahasa Malayalam, bahasa di negara bagian Kerala di India selatan. Nama ilmiah jati adalah Tectona grandis L.f.

Jati dapat tumbuh di daerah dengan curah hujan 1 500 – 2 000 mm/tahun dan suhu 27 – 36 °C baik di dataran rendah maupun dataran tinggi. Tempat yang paling baik untuk pertumbuhan jati adalah tanah dengan pH 4.5 – 7 dan tidak dibanjiri dengan air.  Jati memiliki daun berbentuk elips yang lebar dan dapat mencapai 30 – 60 cm saat dewasa.
Hutan Jati (sumber: pertanianku.com)
Jati memiliki pertumbuhan yang lambat dengan germinasi rendah (biasanya kurang dari 50%) yang membuat proses propagasi secara alami menjadi sulit sehingga tidak cukup untuk menutupi permintaan atas kayu jati. Jati biasanya diproduksi secara konvensional dengan menggunakan biji. Akan tetapi produksi bibit dengan jumlah besar dalam waktu tertentu menjadi terbatas karena adanya lapisan luar biji yang keras. Beberapa alternatif telah dilakukan untuk mengatasi lapisan ini seperti merendam biji dalam air, memanaskan biji dengan api kecil atau pasir panas, serta menambahkan asam, basa, atau bakteri. Akan tetapi alternatif tersebut masih belum optimal untuk menghasilkan jati dalam waktu yang cepat dan jumlah yang banyak.

Secara ekonomis, Jati merupakan tumbuhan yang dimaanfaatkan kayunya. Di Indonesia, Kayu jati memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi. Kayu jati dikenal sebagai kayu yang mampu bertahan lama dengan iklim di Indonesia. Pemanfaatan kayu jati ini biasa digunakan sebagai perabot dan pembangunan rumah hingga pertanian. Pemanfaatan kayu jati ini sudah dikenal sejak jaman Kerajaan Majapahit. Bahkan salah satu hasil hutan yang dibawa VOC ke Belanda di jaman penjajahan adalah Kayu Jati.

Selain memiliki nilai ekonomis di atas, Jati juga memiliki manfaat lain diantaranya sebagai hutan produksi, penyangga ekosistem, dan manfaat lain yang tentunya sangat berpengaruh terhadap kelangsungan alam di Indonesia.

Mengenal Hama dan Penyakit Jati
Sebagai jenis tumbuhan Jati tidak dapat terhindar dari berbagai hama dan penyakit. Secara garis besar penyakit Jati menyerang tiga bagian yakni biji/benih, menyerang bibit di persemaian dan hama/penyakit yang menyerang tanaman.


Adapun untuk jenis hama dan penyakit jati bias di simak pada table di bawah ini:

Tabel hama jati

Dalam Anonim (2008) dijelaskan beberapa langkah pengendalian hama dan penyakit yang biasa menyerang pada tanaman jati, sebagai berikut :

a. Hama ulat jati (Hyblaea puera & Pyrausta machaeralis) yang menyerang pada awal musim penghujan, yaitu sekitar bulan Nopember – Januari dengaan gejalan daun-daun yang terserang berlubang karena dimakan ulat. Bila jumlah ulat tersebut tidak banyak cukup diambil dan dimatikan. Bila tingkat serangan sudah tinggi, maka perlu dilakukan pengendalian dengan cara penyemprotan menggunakan insektisida.

b. Hama uret (Phyllophaga sp) yang merupakan larva kumbang, biasanya menyerang pada bulan Februari – April dengan memakan akar tanaman terutama yang masih muda, sehingga tanaman tiba-tiba layu, berhenti tumbuh dan kemudian mati. Jika media dibongkar, akar tanaman terputus/rusak dan dapat dijumpai hama uret. Kerusakan dan kerugian paling besar akibat serangan hama uret terutama terjadi pada tanaman umur 1-2 bulan di lapangan, tanaman menjadi mati. Pencegahan dan pengendalian hama uret dilakukan dengan penambahan insektisida granuler di lubang tanam pada saat penanaman atau pada waktu pencampuran media di persemaian, khususnya pada lokasi-lokasi endemik/rawan hama uret.

c. Hama Tungau Merah (Akarina), biasanya menyerang pada bulan Juni – Agustus dengan gejala daun berwarna kuning pucat, pertumbuhan bibit terhambat. Hal ini terjadi diakibatkan oleh cairan dari tanaman/terutama pada daun dihisap oleh tungau. Bila diamati secara teliti, di bawah permukaan daun ada tungau berwarna merah cukup banyak (ukuran ± 0,5 mm) dan terdapat benang-benang halus seperti sarang laba-laba. Pengendalian hama tungau dapat dilakukan dengan menggunakan akarisida.

d. Hama kutu putih/kutu lilin yang bisa menyerang setiap saat pada bagian pucuk (jaringan meristematis). Pucuk daun yang terserang menjadi keriting sehingga tumbuh abnormal dan terdapat kutu berwarna putih berukuran kecil. Langkah awal pengendalian berupa pemisahan bibit yang sakit dengan yang sehat karena bisa menular. Bila batang sudah mengkayu, batang dapat dipotong 0,5 – 1 cm di atas permukaan media; pucuk yang sakit dibuang/dimusnahkan. Jika serangan sudah parah dan dalam skala yang luas maka dapat dilakukan penyemprotan dengan menggunakan akarisida.

e. Hama lalat putih atau serangga kecil bertubuh lunak, mirip lalat, termasuk dalam ordo Homoptera. Hama ini mencucuk dan mengisap cairan tanaman sehingga menjadi layu, kerdil bahkan mati. Selain itu dapat menularkan virus dari tanaman sakit ke tanaman sehat. Pengendalian hama ini dapat dilakukan secara 1) biologis menggunakan musuh alami berupa predator dan parasitoid, 2) melakukan wiwilan daun dan penjarangan bibit dalam bedengan, 3) penyemprotan larutan campuran insektisida-deterjen sedini mungkin ketika mulai terlihat di persemaian, terutama diarahkan ke permukaan daun bagian bawah, karena serangga ini mengisap cairan dan tinggal pada bagian tersebut, 4) secara mekanis, menggunakan alat penjebak lalat putih (colour trapping) dan 6) pemupukan NPK cair, untuk meningkatkan pertumbuhan dan kesehatan bibit di persemaian.

f. Penyakit layu–busuk semai sering terjadi pada kondisi lingkungan yang lembab, seperti pada musim hujan. Penyakit ini dapat dibedakan menjadi dua, yaitu 1) serangan penyakit yang dipicu oleh kondisi lingkungan yang lembab dengan gejala banyaknya bibit yang membusuk. Penanganan secara mekanis dapat dilakukan dengan penjarangan bibit, wiwil daun dan pembukaan naungan untuk mengurangi kelembaban. 2) serangan penyakit yang dipicu oleh hujan malam hari/dini hari pada awal musim hujan dengan gejala berupa daun layu seperti terkena air panas. Penyakit ini umumnya muncul pada saat pergantian musim dari musim kemarau ke musim penghujan, saat hujan pertama turun yang terjadi pada malam hari atau dini hari pada awal musim hujan. Seranga penyakit terutama pada bibit yang masih muda dan menyebar dengan cepat.

g.  Hama rayap biasa menyerang tanaman jati muda pada musim hujan yang tidak teratur atau puncak musim kemarau. Prinsip pengendaliannya dengan mencegah kontak rayap dengan batang/perakaran tanaman. Usaha yang dapat dilakukan dengan mengoleskan kapur serangga di pangkal batang, menaburkan abu kayu di pangkal batang pada waktu penanaman, pemberian insektisida granuler (G) pada lubang tanam ketika penanaman khususnya pada lokasi yang endemik/rawan rayap,
mengurangi kerusakan mekanis pada perakaran dalam sistem tumpang sari dan menghilangkan sarang-sarangnya.

h. Hama penggerek batang/oleng-oleng (Duomitus ceramicus) adalah bentuk larva yang hidup dalam kulit pohon, menggerek kulit batang sampai kambium dan memakan jaringan kayu muda, membuat liang gerek yang panjang, terutama bila pohon jati kurang subur dan menyebabkan terbentuknya kallus (gembol). Fase larva ini biasanya berlangsung antara April – September. Pengendalian oleng-oleng dengan insektisida fumigan sehingga dapat mengenai sasaran dengan cepat. Pemilihan jenis tanaman tumpang sari yang pendeek, di daerah endemik perlu dilakukan agar ruang tumbuh di bawah tajuk tidak terlalu lembab. Pengendalian secara mekanis dapat dilakukan dengan penggunaan perangkap lampu (light trap) pada malam hari.

i. Hama penggerek pucuk biasanya menyerang tanaman jati muda. Ulat ini berwarna kemerahan dengan kepala berwarna hitam; dibelakang kepala terdapat cincin kuning keemasan Gejala awal biasanya pada bagian pucuk apikal tiba-tiba menjadi layu dan mengering sepanjang 30-50 cm, yang disebabkan karena adanya lubang gerekan kecil (± 2mm) di bawah bagian yang layu/kering.. Pada bagian ujung batang utama yang mati akan keluar tunas-tunas air/cabang-cabang baru. Pengendalian hama ini dapat dilakukan injeksi insektisida sistemik ke batang dan mengurangi/menghilangkan tunas-tunas air yang muncul agar pucuk yang stagnasi dapat aktif tumbuh lagi. Bila tidak segera dihilangkan maka tunas air yang muncul akan menggantikan fungsi batang utama, sehingga batang di bagian atas membengkok.

j. Hama Kutu Putih (Pseudococcu /mealybug) menyerang dengan menghisap cairan tanaman terutama pada musim kemarau. Seluruh tubuhnya dilindungi oleh lilin/tawas dan dikelilingi dengan karangan benang-benang tawas berwarna putih; pada bagian belakang didapati benang-benang tawas yang lebih panjang. Hama ini sering menyebabkan daun keriting, pucuk apikal tumbuh tidak normal (bengkok dan jarak antar ruas daun pendek). Hama ini biasanya akan menghilang pada musim hujan namun kerusakan yang terjadi dapat mengganggu pertumbuhan tanaman. Hama kutu ini bersimbiosis dengan semut gramang (Plagiolepis longipes) dan semut hitam (Dolichoderus bituberculatus) yang sering memindahkan kutu dari satu tanaman ke tanaman lain. Pengendaliannya dengan penyemprotan insektisida nabati dan pemotongan bagian-bagian yang cacat dan hendaknya dilakukan pada awal musim penghujan.

k. Hama kupu putih (peloncat flatid putih) umumnya menyerang tanaman jati muda. Dari kenampakannya, hama kupu putih yang menyerang jati ini sangat mirip dengan spesies flatid putih Anormenis chloris. Jenis serangga flatid jarang dilaporkan menyebabkan kerusakan ekonomis pada tanaman budidaya. Namun demikian, apabila populasinya tinggi dalam skala luas pada musim kemarau yang panjang akan memperbesar tekanan terhadap tanaman muda sehingga meningkatkan resiko mati pucuk. Pengendalian hama ini dilakukan dengan aplikasi insektisida sistemik melalui batang (bor/bacok oles) dan penyemprotan bagian bawah daun, ranting dan batang dengan insektisida racun lambung.

l. Hama kumbang bubuk basah (Xyleborus destruens) atau kumbang ambrosia menyerang pada batang jati di daerah-daerah dengan kelembaban tinggi. Di daerah yang curah hujannya lebih dari 2000 mm per tahun, serangan hama ini dapat ditemukan sepanjang tahun. Gejala yang nampak berupa kulit batang berwarna coklat kehitaman akibat adanya lendir yang bercampur kotoran X. destruens. Serangan hama ini tidak mematikan pohon atau mengganggu pertumbuhan tetapi akibat saluran-saluran kecil melingkar pada batang akan menurunkan kualitas kayu. Pencegahan dilakukan dengan tidak menanam jati di daerah yang curah hujannya lebih dari 2000 mm per tahun. Menebang pohon-pohon yang diserang pada waktu penjarangan. Mengurangi kelembaban mikro tegakan, misalnya dengan mengurangi tumbuhan bawah dan melakukan penjarangan dengan baik.

m. Penyakit layu bakteri dapat menyerang bibit maupun tanaman muda di lapangan (umur 1-5 tahun) yang dapat menyebabkan kematian. Gejalanya daun (layu, menggulung, mengering dan rontok), batang (layu dan mengering) serta bagian akar rusak. Pada kambium atau permukaan luar kayu gubal nampak garis-garis hitam membujur sepanjang batang. Pengendaliannya dapat dilakukan secara biologis, kimiawi dan cara silvikultur. Cara biologi dan kimiawi baik untuk mengatasi serangan di persemaian, sedangkan untuk serangan pada tanaman di lapangan, maka cara silvikultur lebih efektif dan aman. Cara biologi dilakukan dengan menggunakan bakteri antagonis Pseudomonas fluorescens dan cara kimiawi menggunakan bakterisida, yang disemprotkan ke seluruh permukaan tanaman dan sekitar perakaran. Cara silvikultur dilakukan dengan memperbaiki drainase lahan dan pengaturan jenis tumpang sari pada tanaman pokok jati.

n. Hama Inger-Inger (Neotermes tectonae) merupakan suatu golongan rayap tingkat rendah. Gejala kerusakan berupa pembengkakan pada batang, umumnya pada ketinggian antara 5-10 m, dengan jumlah pembengkakan dalam satu batang terdapat 1-6 lokasi dan menurunkan kualitas kayu. Waktu mulai hama menyerang sampai terlihat gejala memerlukan waktu 3-4 tahun, bahkan sampai 7 tahun. Serangan hama inger-inger umumnya pada lokasi tegakan yang memiliki kelembaban iklim mikro tinggi, seperti akibat tegakan yang terlalu rapat. Pencegahan dan Pengendalian dengan penjarangan yang sebaiknya dilakukan sebelum hujan pertama atau kira-kira bulan oktober guna mencegah penyebaran sulung (kelompok hama inger-inger yang mengadakan perkawinan). Secara biologi hama ini mempunyai musuh alami seperti burung pelatuk, kelelawar, tokek, lipan, kepik buas, cicak, dan katak pohon. Karena itu keberadaan predator-predator tersebut harus dijaga di hutan jati.

Sumber:
https://id.wikipedia.org/wiki/Jati
https://mtolshop.id/mengenal-sedikit-tentang-sejarah-kayu-jati-2/
https://www.susangallery.co.id/content/22-Karakteristik-Pohon-Jati
https://forestryinformation.wordpress.com/2011/07/16/hama-dan-penyakit-pada-tanaman-jatidan-cara-pengendaliannya/
http://www.ejournalunb.ac.id/index.php/JSN/article/download/42/40 http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/1120/132307219%282%29.pdf?
http://jurnal.untad.ac.id/jurnal/index.php/WartaRimba/article/download/3572/2585
https://media.neliti.com/media/publications/235993-inventarisasi-hama-tanaman-jati-unggul-n-843688a8.pdf

Kamis, 23 Januari 2020

TINDAKAN PREVENTIF MENCEGAH BENCANA BANJIR DAN LONGSOR

Januari 23, 2020 1 Comments

Sumber Foto : Jurnal Sumatra

A.    Mengenal Bencana Banjir dan Longsor
          1. Pengertian Bencana Banjir dan Longsor
Definisi Bencana udah tertuang dalam Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana. Dalam Undang-undang tersebut, pengertian Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor nonalam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.
Dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tersebut juga mendefinisikan mengenai beberapa macam bencana seperti bencana alam, bencana non alam, dan bencana sosial. Bencana alam  merupakan bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor.
a.   Banjir
Banjir merupakan salah satu bencana alam di mana daratan tergenang oleh aliran air yang berlebihan. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menunjukkan bahwa banjir berarti “berair banyak dan deras kadang-kadang meluap atau peristiwa terbenamnya daratan karena peningkatan volume air”.
Bencana ini sering terjadi baik di pedesaan maupun perkotaan, bahkan di beberapa tempat banjir sudah menjadi agenda tahunan. Banjir di lokasi berbeda juga tentunya akan menimbulkan dampak yang berbeda. Banjir di perkotaan sebagian besar akan menimbulkan kerusakan pada sarana dan prasarana pemukiman warga. Lain hal nya jika bencana ini terjadi di pedesaan yang pada umumnya akan menyebabkan terendamnya lahan pertanian dan ladang milik masyarakat.
Sumber Foto : www.tarungnews.com
b.      Longsor
Pengertian longsor menurut Crude (1991) yaitu suatu kejadian atau peristiwa geologi yang disebabkan oleh pergerakan massa batuan, tanah atau puing- puing yang menuruni suatu lereng. Sedangkan Vernes (1978) mengartikan longsor sebagai pergerakan material ke bawah dan ke luar lereng karena pengaruh dari gravitasi. Longsor yang lebih dikenal dengan tanah longsor (landslide) juga dapat didefinisikan sebagai perpindahan massa berbagai jenis batuan atau tanah yang tidak membutuhkan media berpindah seperti air atau udara.
Sumber foto : Smansa - blogspot


2. Penyebab Terjadinya Banjir dan Longsor
a.      Penyebab Banjir
Banjir terjadi bukan hanya tanpa sebab, namun disebabkan oleh banyak faktor baik berupa faktor alam maupun faktor manusia. Berikut adalah berbagai penyebab terjadinya salah satu bencana hidrometeorologi ini.
1. Kondisi Topografi
Daerah dengan kondisi topografi rendah atau disebut dataran rendah akan beresiko lebih tinggi dilanda banjir daripada dataran tinggi. Hal ini umum terjadi karena air mengalir dari tempat tinggi ke tempat yang lebih rendah. Selain itu, daerah hilir dari suatu DAS (Daerah Aliran Sungai) cenderung memiliki kemiringan lereng yang rendah sehingga lebih berpeluang terjadi bencana hidrometeorologi ini.
2. Intensitas Hujan yang Tinggi
Hujan lebat yang terjadi terus-menerus dapat menyebabkan volume air di daratan meningkat. Apabila hal ini terus terjadi maka sungai tidak akan mampu lagi menampung banyaknya volume air yang ada. Akibatnya, air sungai meluap dan terjadilah bencana ini.
3. Penyumbatan Aliran Air
Penyumbatan aliran air baik di sungai maupun di selokan karena sampah yang menumpuk akan menyebabkan terganggunya aliran air. Hal ini tentunya akan membuat aliran air cepat meluap sehingga menyebabkan bencana hidrometeorologi ini.
4. Sedikitnya Area Peresapan Air
Area peresapan air sangatlah penting untuk meresapkan air yang ada di permukaan menuju ke dalam tanah. Pada saat ini, area resapan air sangat jarang ditemukan terlebih di daerah perkotaan. Daerah yang seharusnya menjadi area peresapan air justru tertutup oleh bangunan aspal ataupun beton sehingga air yang seharusnya meresap akan menggenang di permukaan.
5. Penggundulan Hutan
Hutan dengan banyak pohon-pohon di dalamnya berfungsi untuk menahan dan menyerap air sehingga aliran air di permukaan tidak menggenang. Apabila terjadi penebangan pohon yang berlebihan atau penggundulan hutan, fungsi hutan ini akan hilang, akibatnya air akan langsung mengalir ke daerah yang lebih  rendah dalam jumlah yang banyak dan menyebabkan banjir di daerah hilir suatu DAS.
Sumber Foto : Pasberita.com
Berdasarkan penyebab diatas, maka penyebab terjadinya banjir dibedakan menjadi dua yakni karena faktor alam dan ulah manusia. Faktor alam seperti curah hujan yang tinggi, kondisi alam. Sedangkan faktor yang disebabkan manusia seperti kurangnya daya resap, penggundulan hutan dan sebagainya.

b.      Penyebab Longsor
Tanah longsor umumnya terjadi pada dataran tinggi atau pegunungan. Tetapi longsor bisa terjadi pada dataran yang relatif rendah. Longsor di daerah rendah tersebut disebabkan oleh penggalian jalan, runtuhnya galian tambang atau runtuhnya tebing sungai. Apa saja penyebab tanah longsor? Berikut adalah uraiannya.
1. Curah hujan yang tinggi
Penyebab pertama seringnya terjadi longsor adalah tingginya curah hujan. Tanah yang kering pada musim kemarau mempunyai banyak pori- pori atau rongga tanah. Rongga- rongga tanah tersebut akan membentuk retakan pada tanah. Ketika musim penghujan, air hujan akan memenuhi rongga tanah dan menyebabkan terjadinya pergeseran tanah. Jika tanah bergeser terus menerus maka akan terjadi longsor.
2. Sampah yang menumpuk
Sampah yang menumpuk di sungai akan menyebabkan banjir. Sedangkan sampah yang menumpuk di atas permukaan tanah kemudian terkena tekanan air hujan maka akan menimbulkan longsor.
3. Adanya Aktivitas Seismik
Gempa bumi yang terjadi pada daerah berlereng terjal akan mengakibatkan dilatasi tanah. Apabila getaran gempa terus terjadi maka daerah gempa tersebut akan mengalami longsor.
4. Adanya Aktivitas Vulkanik
Salah satu penyebab terjadinya longsor adalah adanya aktivitas gunung berapi. Larva yang mencair mengakibatkan banjir lahar yang mengalir cepat ke permukaan lereng. Derasnya arus banjir lahar tersebut memicu terjadinya banjir bandang dan longsor, seperti yang terjadi pada letusan Gunung St. Helens di Washington. Longsor tersebut tercatat sebagai longsor karena aktivitas vulkanik paling dahsyat yang pernah terjadi.
5. Hutan yang Gundul
Hutan mempunyai peranan yang besar bagi kestabilan tanah. Apabila pohon- pohon besar di hutan ditebangi, maka struktur lapisan tanah menjadi labil karena tidak ada akar yang biasanya menguatkan tanah. Ketika curah hujan tinggi, kondisi tanah menjadi jenuh akan air hujan karena tidak ada pohon yang membantu menyerap air. Begitu besarnya dampak akibat hutan gundul. Jika hal tersebut terus dibiarkan maka akan mengakibatkan bencana tanah longsor.
6. Struktur Bebatuan yang Hancur
Batuan sedimen dan batuan endapan sangat mudah lapuk dan hancur menjadi tanah. Apa lagi jika batuan- batuan tersebut berada di lereng gunung, maka akan sangat rawan terjadi longsor.
7. Material yang Menimbun Lembah
Lahan permukiman yang semakin sempit di daerah dataran rendah telah memaksa masyarakat untuk membuat perumahan di dataran tinggi. Perumahan tersebut dibuat dengan cara memotong tebing dan menimbun lembah. Jika material yang digunakan untuk menimbun lembah tidak benar- benar padat, maka akan mudah terjadi longsor jika terkena aliran air hujan.
8. Bendungan yang Menyusut
Menyusutnya air di danau, waduk atau bendungan mengakibatkan penurunan permukaan tanah. Permukaan tanah yang terus menerus turun akan memunculkan retakan dan mengakibatkan longsor.
9. Beban Tanah yang Berlebih
Perumahan dan bangunan yang dibangun di atas lereng memberi beban berlebih pada tanah. Tidak hanya bangunan, kendaraan berat yang melintasi jalan di lereng gunung juga menjadi beban berat bagi tanah. Jika struktur tanah yang mempunyai beban berat tersebut tidak diperkuat, maka akan menimbulkan longsor.
10. Adanya Erosi Tanah
Erosi tanah merupakan proses terkikisnya lapisan tanah oleh berbagai macam media seperti air, angin dan es. Erosi tanah yang terjadi pada tebing yang curam dan tidak mempunyai pohon sebagai penguat struktur tanah, dapat menyebabkan bencana longsor (baca : Cara Mencegah Erosi Tanah).



A.    Tindakan Preventif Untuk Menanggulangi Bencana Banjir dan Longsor
Banjir dan Longsor merupakan bencana yang paling sering terjadi di Indonesia. Beragam upaya dan cara tentunya sudah dilakukan oleh sejumlah pihak. Mulai dari kampanye pencegahan banjir, hingga bragam tindakan lain dilakukan. Salah satu cara menanggulangi banjir dan longsor adalah dengan tindakan preventif.
Pengertian Preventif adalah suatu tindakan pengendalian sosial yang dilakukan untuk mencegah atau mengurangi kemungkinan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan di masa mendatang. Tindakan preventif (pencegahan) dilakukan manusia, baik secara pribadi maupun berkelompok untuk melindungi diri mereka dari hal buruk yang mungkin terjadi.
Tindakan Preventif untuk menanggulangi banjir dan longsor merupakan tindakan pengendalian yang dilakukan untuk mencegah terjadinya banjir dan longsor. Sehingga nantinya tidak adalagai dampak yang terjadi akibat banjir dan longsor. Adapun beberapa tindakan preventif menanggulangi banjir dan longsor diantaranya:
             a.  Membuang Sampah pada Tempatnya
Pendangkalan sungai adalah salah satu akibatnya. Dalam jangka panjang, pada saat curah hujan tinggi, kubik air yang tak tertampung akan mengakibatkan banjir. Karena itulah mari membuang sampah pada tempatnya. Bukan hanya untuk mencegah banjir, namun lingkungan yang bersih akan lebih menyehatkan.

             b.  Membuat Saluran Air dan Terowongan Air Bawah Tanah
Banjir merupakan masalah pembuangan air. Jika sudah mengetahui akan dibuang ke mana, maka membuat saluran air merupakan salah satu cara pencegahan banjir. Saluran air yang dibuat tidak boleh terhubung ke sungai mati atau sungai yang buntu. Tapi harus dipastikan tujuannya, yaitu terhubung dengan sungai yang memiliki aliran air yang lancar dan terhubung langsung ke laut.
www.paradigmabangsa.com

3            c. Menanam Pohon Berbatang Besar di Sekitar Rumah
Banyak saran pencegahan banjir yang mengatakan tentang penanaman pohon, namun itu saja tidak cukup. Pohon yang ditanam sebaiknya merupakan pohon yang dapat tumbuh besar. Hal ini dikarenakan, pohon yang besar memiliki akar yang kuat dan menciptakan rongga-rongga tanah yang lebih baik. Hal ini berfungsi agar air dapat cepat diserap oleh akar dan resapan air ke tanah dapat lebih optimal.


4            d. Penciptaan Green Open Space
Kawasan Terbuka Hijau adalah kawasan yang khusus ditujukan untuk penanaman pohon di daerah perkotaan. Hal ini digunakan sebagai pengganti hutan. Pada kota-kota yang cukup luas dan jarak ke hutan cukup jauh, area resapan air sangat sedikit. Sehingga dibutuhkan area tambahan dengan fungsi pengganti.



5            e. Mendirikan Bangunan atau Konstruksi Pencegah Banjir
Bukan hanya saluran air yang baik, tapi bangunan pencegahan banjir dapat dijadikan sebagai salah satu metode pencegahan banjir. Bendungan dan waduk adalah konstruksi yang tepat untuk dijadikan media pencegahan banjir, dikarenakan dapat menampung kubik air yang cukup banyak sebelum dialirkan ke laut. Sehingga air tidak sampai mengalir ke pemukiman penduduk.



Sumber:

Jumat, 25 Oktober 2019

RANGKAIAN HARI JADI PROVINSI KE – 74 CDK WILAYAH SUMENEP KINI PENUH WARNA

Oktober 25, 2019 0 Comments

Ada yang berbeda pada hari Jadi Provinsi Jawa Timur  yang ke – 74 di CDK Wilayah sumenep kali ini pasalnya dalam rangkaian kegiatan tersebut juga melibatkan para santri dan juga ananda PAUD. Moment ini dimanfaatkan untuk lebih mengenalkan kehutanan sejak dini.
Rangkaian acara yang pertama diselenggarakan pada tanggal 21 Oktober 2019 dalam bentuk  Lokakarya. Lokakarya yang memiliki tema “Peningkatan Kesadaran Pelestarian Lingkungan Hidup“ ini dilaksanakan di Madrasah Aliyah I Annuqoyah putri Guluk – guluk. Kultur Masyarakat Madura yang masih kental dengan ajaran agama islam menjadi dasar pemikiran untuk lebih mensyiarkan tentang penyuluhan kehutanan. Hal ini merupakan salah satu bentuk pendekatan yang mensinergikan ajaran agama (dakwah) dengan ilmu lingkungan pada masyarakat Madura melalui eksistensi Pesantren. Output dari kegiatan ini diharapkan mampu membentuk kesadaran para santriwati bahwa menjaga lingkungan kawasan hutan merupakan bagian dari ibadah yang pahalanya mengalir terus sehingga dapat mengimplementasikan dalam masyarakat secara kontinyu.


Dalam Materi “Kesadaran Dan Kepedulian Lingkungan Berbasis Humanisme Agama” yang disampaikan pada lokakarya menyimpulkan bahwa manusia dan lingkungan merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dilepaskan sehingga bersifat sirkuler. Sifat ini bermakna bahwa apapun yang dilakukan oleh manusia terhadap lingkungannya, akan memberikan dampak pada manusia itu sendiri sesuai dengan apa yang mereka lakukan terhadap lingkungannya. Dalil yang menguatkan hal tersebut tersurat dalam Al Quran surat Ar – Rum ayat 41 yang artinya telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan  karena perbuatan tangan manusia, Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar. Pendidikan Agama dimaksudkan untuk pembinaan mental masyarakat agar terbina sikap saling peduli, perhatian  dan saling membantu untuk menjaga kelestarian lingkungan.

Acara puncak dari perayaan hari jadi Provinsi Jawa Timur diselenggarakan di halaman kantor Cabang Dinas Kehutanan pada tanggal 24 Oktober 2019. Lomba Kolase ini terselenggara atas kerjasama CDK Wilayah Sumenep dengan PAUD H. I El Fath dengan mengusung tema “ Mengenal Satwa dan habitatnya “. Acara Lomba kolase ini dimeriahkan oleh 30 (tiga puluh) sekolah PAUD di lingkungan Kecamatan Kota Sumenep. 
Acara dibuka oleh RB. Ach. Murtada, S.Hut, MP selaku KSBTU CDK Wilayah Sumenep mewakili kepala CDK. Dalam sambutannya, beliau menegaskan tentang pentingnya pendidikan tentang lingkungan pada usia dini dan menumbuhkan kreativitas pada diri anak. Setelah acara tersebut dilanjutkan dengan acara pemotongan tumpeng bersama seluruh ASN CDK Wilayah Sumenep dan perwakilan Dharma wanita. Adapun para pemenang lomba kolase ini ialah :
  1. Juara 1 :  Khanza Nur Syafiyyah Bavi  (PAUD Idaman Al Munawarah)
  2. Juara 2 :  Alya Mahninatul Wardah  (PAUD Rumah Pintar)
  3. Juara 3 : Novira Izzati Fatihan (TK Negeri Pembina)
  4. Harapan 1 : Dedy Kurniawan ( TK Sartika)
  5. Harapan 2 : Shafiyah Nathania (TK. Pertiwi)
  6. Harapan 3 :  Hafiza Khoiru Lubna (PAUD H.I Nur Indria)


Kami ucapkan selamat kepada para ananda yang telah mendapatkan juara dan ucapan terimakasih juga pada yang telah berpartisipasi dalam lomba. Dan sebagai wujud rasa syukur kami, setiap sekolah yang berpartisipasi dalam kegiatan ini diberikan bibit gratis untuk penghijauan sekolahnya. Semoga perayaan Hari Jadi Provinsi Jawa Timur yang akan datang dapat lebih semarak lagi. SELAMAT HARI JADI PROVINSI JAWA TIMUR, JAWA TIMUR CETTAR..